Mengenal Burnout dalam Dunia Kerja, Bisa Hilangkan Produktivitas, lo!

3 min read

burnout

Menjadi produktif tentu membantu kita dalam menyelesaikan tugas dan kewajiban sehari-hari. Namun, bagaimana jika perasaan menjadi produktif tersebut malah berubah menjadi perasaan hampa? Nah, Sobat perlu berkenalan dengan burnout, nih!

Jadi, sebenarnya, apa itu burnout? Sederhananya, istilah tersebut merujuk pada keadaan lanjutan dari perasaan produktif. Walaupun begitu, kondisi ini malah menghambat produktivitas. Makin bingung? Mending, langsung scroll aja untuk mendapatkan informasinya lebih lanjut!

1. Apa, sih, Burnout Itu?

apa itu burnout?. Pexels
Burnout adalah serangkaian gejala hasil dari stres di tempat kerja

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout adalah serangkaian gejala yang timbul akibat stres berat yang berkepanjangan.

Stres yang berkepanjangan ini pada akhirnya akan mengakumulasikan tekanan hingga si penderita merasa tak bisa lagi melawannya. Ketika perasaan tidak berdaya melawan tekanan tersebut muncul, si penderita hanya bisa pasrah.

WHO tidak memasukkan kondisi ini sebagai suatu jenis penyakit, melainkan sebuah fenomena yang berkaitan dengan dunia kerja. Ya, burnout memang identik dengan kelelahan atau kebosanan akibat beban kerja, baik beban kerja di sekolah, kampus, hingga dunia profesional.

Awalnya, istilah ini diciptakan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat, Herber Freudenberger, untuk menjelaskan mengenai kelelahan para tenaga medis setelah membantu pasien. Sampai di sini, apakah Sobat sudah merasa relate dengan kehidupan sendiri?

2. Penyebab Burnout

Penyebab burnout. Pexels
Kondisi ini berawal dari stres berkepanjangan yang tidak teratasi

Dari penejalasan sebelumnya, burnout sangat erat kaitannya dengan pekerjaan. Kemunculannya dalam pekerjaan dunia kesehatan memberikan gambaran bahwa burnout sangat berhubungan dengan idealisme seseorang dalam mengerjakan kewajibannya.

Ya, seperti yang kita ketahui, dunia kesehatan memang cenderung memiliki idealisme tinggi. Secara tersirat, para tenaga medis dituntut agar selalu mampu mengorbankan diri untuk orang lain.

Adapun penyebab dari kondisi ini adalah sebagai berikut:

  • Adanya tuntutan ekspektasi dalam bekerja yang terasa berat
  • Perubahan di lingkungan pekerjaan yang terlalu cepat atau terlalu monoton
  • Tidak benar-benar memahami apa yang akan dikerjaan
  • Perfeksionisme yang tinggi dalam melakukan pekerjaan
  • Mendahulukan kepentingan pekerjaan daripada kepentingan pribadi
  • Tekanan berupa harus mengejar waktu (time pressured)
  • Beban kerja terlalu berat sehingga kelebihan bekerja (overworked)

3. Ciri-Ciri dan Gejala

ciri-ciri dan gejala burnout. Pexels
Para penderita biasanya merasa hampa ketika mengerjakan sesuatu

Orang yang sedang megalami burnout merasa begitu tertekan sampai-sampai kehilangan minat dalam melakukan rutinitas dan pekerjaannya. Padahal, selama ini, ia selalu bersemangat.

Akibat hilangnya motivasi tersebut, yang ada di pikiran orang tersebut hanyalah kehampaan. Pandangannya terhadap rutinitasnya pun ikut berubah. Di matanya, kolega, pekerjaan, bahkan gaji sudah tidak bermakna lagi.

Menurut National Center for Biotechnology Information (NCBI), para penderita burnout mungkin juga akan merasakan kelelahan secara fisik. Terlalu banyak pikiran di otak tentu menguras energi. Tidak hanya itu, kondisi ini membuat mereka lemas, terkadang sampai tidak mampu lagi untuk sekadar tersenyum.

Lebih jauh lagi, kelelahan secara fisik yang timbul juga bisa berdampak pada beberapa organ, seperti mengalami nyeri ataupun masalah di saluran pencernaan.

Baca Juga: Sunday Scaries, Gejala dan Cara Menangani Sindrom Cemas di Hari Minggu

4. Apa Perbedaannya dengan Lelah Biasa, Stres, dan Depresi?

stress, depresi. Pexeks
Burnout, lelah sementara, stres, dan depresi memiliki beberapa kesamaan gejala

Banyak orang yang sering menyamakan burnout sebagai depresi, kelelahan sementara, atau stres biasa. Memang, terdapat beberapa ciri-ciri serupa antara keempat kondisi tersebut. Namun, nyatanya, detail masing-masing kondisi sangat berbeda—begitu juga dengan penanganannya.

  • Perbandingan dengan stres

Burnout sendiri memang berawal dari stres yang berkepanjangan. Namun pada stres, penderita tahu penyebabnya. Ia juga memiliki harapan bahwa jika dirinya berhasil terlepas dari stresor (penyebab stres), stres yang ia rasakan akan berangsur-angsur menghilang.

Orang dengan gejala burnout tidak begitu. Mereka tidak memiliki harapan bahwa burnout akan hilang seiring dengan selesainya tugas, pekerjaan, atau hilangnya stresor.

  • Perbandingan dengan kelelahan sementara

Burnout dan kelelahan fisik sementara terbilang mirip. Bahkan, terdapat gejala burnout yang berupa kelelahan fisik. Namun, sama seperti stres, orang yang kelelahan akibat sesuatu tahu kapan ia mulai merasakan hal tersebut.

Stresornya pun jelas dan orang tersebut juga percaya bahwa dengan hilangnya penyebab lelah, tubuh dan mentalnya akan kembali normal. Ia pun tidak merasa putus asa dalam memulihkan kondisi yang ia alami.

  • Perbandingan dengan depresi

Perbedaan utama antara burnout dan depresi terletak pada apa yang melatarbelakanginya. Dari penjelasan WHO sebelumnya, burnout muncul akibat dinamika di tempat kerja, bukan ranah lain dalam kehidupan. Berbeda dengan depresi yang penyebabnya biasanya merupakan gabungan dari banyak hal dalam hidup.

Selain itu, depresi lebih memengaruhi pikiran. Jika burnout hanya menyebabkan pikiran hampa, depresi membuat penderitanya merasa hampa sekaligus berpikir negatif tentang hidupnya. Bahkan, pada beberapa kondisi, depresi bisa mendorong si penderita untuk mengakhiri hidupnya.

5. Dampak Burnout dalam Kehidupan Sehari-Hari

pekerjaan yang menumpuk. Pexels
Pekerjaan yang menumpuk akibat burnout dapat menyebabkan kondisi tersebut menjadi lebih parah lagi

Hal paling kentara dari orang yang sedang mengalami burnout adalah terjadinya penurunan performa. Kamu, sebagai karyawan, karyawan tidak mampu memberikan yang terbaik bagi diri sendiri maupun perusahaan.

Karena tidak mendapatkan hasil yang maksimal darimu, perusahaan tentu akan merasa rugi. Sebab, hal ini akan menguras sumber daya perusahaan itu sendiri.

Itu dari sisi perusahaan. Bagaimana dari sisi penderita? Burnout akan merembet ke banyak aspek kehidupan penderita, tidak hanya pekerjaan. Tekanan yang tinggi membuat mentalnya menjadi tidak stabil. Ia tidak bersemangat atau malah menjadi mudah marah ketika berinteraksi dengan teman-teman, pasangan, atau anak-anaknya.

Tidak hanya itu, kondisi ini juga berpotensi membuat rencana finansial penderita menjadi berantakan karena sudah tidak lagi nyaman dan bersemangat dalam bekerja.

Dalam hal ini, burnout harus segera mendapat penanganan karena sifatnya yang seperti lingkaran setan. Menurunnya performa kerja akan membuat tugas kantor semakin menumpuk. Ini tentu akan menciptakan tekanan yang lebih besar lagi.

Nah, tekanan yang lebih besar ini nantinya akan membuat orang tersebut semakin merasa burnout dan fase tersebut kembali berulang.

Dari artikel di atas, Sobat tahu kalau burnout berbeda dengan stres, depresi, dan kelelahan biasa. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kinerjamu menurun. Oleh karena itu, penting bagi Sobat memiliki skill yang mumpuni dan lingkungan kerja yang nyaman.

Ngomongin soal skill, kebetulan, MySkill punya program bootcamp di bidang-bidang skill digital. Harganya kompetitif dan tutornya merupakan expert yang sudah malang-melintang di perusahaan-perusahaan besar. Jadi penasaran? Makanya, langsung cek di myskill.id!

Baca Juga: 5 Cara ini Bantu Kamu Mengatasi Stres di Tempat Kerja

Editor: Fria Sumitro