Cara Menghitung Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Pengertian Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Dalam manajemen keuangan dan akuntansi, pemahaman tentang biaya tetap dan biaya variabel adalah hal yang fundamental. Kedua jenis biaya ini memiliki karakteristik yang berbeda dan berdampak langsung pada perencanaan keuangan, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan strategis dalam bisnis. Mari kita bahas secara lengkap tentang pengertian biaya tetap dan biaya variabel beserta contoh-contohnya.

Biaya Tetap (Fixed Costs)

Pengertian: Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah meskipun ada perubahan dalam volume produksi atau tingkat aktivitas bisnis. Dengan kata lain, biaya ini tetap konstan dalam jangka pendek, terlepas dari seberapa banyak barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Karakteristik:

  1. Konstan: Tidak berubah dengan perubahan volume produksi.
  2. Waktu: Bersifat tetap dalam periode waktu tertentu (misalnya bulanan atau tahunan).
  3. Pengaruh Aktivitas: Tidak dipengaruhi oleh tingkat aktivitas produksi atau penjualan.

Contoh-contoh Biaya Tetap:

  1. Sewa Bangunan: Biaya yang dibayarkan untuk menyewa ruang kantor, pabrik, atau toko tetap sama setiap bulan, terlepas dari jumlah produksi atau penjualan.
  2. Gaji Karyawan Tetap: Gaji yang dibayarkan kepada karyawan tetap seperti manajer dan staf administrasi.
  3. Asuransi: Premi asuransi yang dibayar secara periodik, misalnya asuransi gedung atau asuransi kesehatan karyawan.
  4. Depresiasi: Penyusutan aset tetap seperti mesin dan peralatan, yang dihitung berdasarkan metode yang konsisten (misalnya metode garis lurus).

Contoh dalam Konteks Bisnis: Misalkan sebuah perusahaan manufaktur membayar Rp50.000.000 per tahun untuk sewa pabrik dan Rp10.000.000 per tahun untuk asuransi. Biaya-biaya ini tetap sama, terlepas dari apakah perusahaan memproduksi 1.000 unit atau 10.000 unit produk dalam setahun.

Biaya Variabel (Variable Costs)

Pengertian: Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan perubahan volume produksi atau tingkat aktivitas bisnis. Dengan kata lain, biaya ini meningkat ketika produksi meningkat dan menurun ketika produksi menurun.

Karakteristik:

  1. Bervariasi: Berubah secara langsung proporsional dengan perubahan volume produksi.
  2. Per Unit: Biaya per unit produk atau jasa tetap konstan, tetapi total biaya berubah sesuai dengan jumlah unit yang diproduksi.
  3. Pengaruh Aktivitas: Dipengaruhi secara langsung oleh tingkat aktivitas produksi atau penjualan.

Contoh-contoh Biaya Variabel:

  1. Bahan Baku: Biaya untuk bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, yang meningkat seiring dengan peningkatan produksi.
  2. Tenaga Kerja Langsung: Upah yang dibayarkan kepada pekerja produksi yang jumlahnya bergantung pada jumlah unit yang diproduksi.
  3. Komisi Penjualan: Komisi yang dibayarkan kepada tenaga penjualan berdasarkan jumlah penjualan yang dilakukan.
  4. Biaya Pengemasan: Biaya untuk bahan pengemasan yang digunakan untuk mengemas produk jadi.

Contoh dalam Konteks Bisnis: Jika sebuah perusahaan manufaktur memproduksi barang yang memerlukan bahan baku senilai Rp5.000 per unit dan perusahaan tersebut memproduksi 1.000 unit dalam satu bulan, total biaya bahan baku adalah Rp5.000.000. Jika produksi meningkat menjadi 2.000 unit, total biaya bahan baku akan meningkat menjadi Rp10.000.000.

Perbandingan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Untuk memahami lebih lanjut perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel, mari kita lihat beberapa aspek perbandingan berikut:

  1. Perubahan Terhadap Volume Produksi:
    • Biaya Tetap: Tidak berubah meskipun volume produksi berubah.
    • Biaya Variabel: Berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.
  2. Contoh:
    • Biaya Tetap: Sewa bangunan, gaji karyawan tetap, asuransi.
    • Biaya Variabel: Bahan baku, upah tenaga kerja langsung, komisi penjualan.
  3. Perhitungan Total Biaya:
    • Biaya Tetap: Total biaya tetap = Biaya tetap per unit x Jumlah unit produksi (tidak berubah).
    • Biaya Variabel: Total biaya variabel = Biaya variabel per unit x Jumlah unit produksi (berubah).
  4. Dampak pada Harga Pokok Penjualan:
    • Biaya Tetap: Tidak mempengaruhi harga pokok penjualan per unit secara langsung.
    • Biaya Variabel: Mempengaruhi harga pokok penjualan per unit secara langsung, karena total biaya variabel berubah sesuai dengan jumlah produksi.
  5. Pengendalian Biaya:
    • Biaya Tetap: Sulit untuk diubah dalam jangka pendek, biasanya perlu strategi jangka panjang untuk mengurangi biaya tetap (misalnya, negosiasi ulang kontrak sewa).
    • Biaya Variabel: Lebih mudah untuk dikendalikan dalam jangka pendek, bisa diatur dengan menyesuaikan volume produksi atau efisiensi penggunaan bahan baku.

Pentingnya Pemahaman Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Perencanaan Anggaran: Dengan memahami perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel, manajemen dapat membuat anggaran yang lebih akurat dan realistis. Ini penting untuk perencanaan keuangan jangka panjang dan pengambilan keputusan strategis.

Penentuan Harga Jual: Mengetahui struktur biaya tetap dan variabel membantu dalam menentukan harga jual yang tepat. Harga jual harus menutupi biaya variabel per unit dan memberikan kontribusi yang cukup untuk menutupi biaya tetap dan menghasilkan keuntungan.

Analisis Break-Even: Analisis titik impas (break-even analysis) menggunakan informasi tentang biaya tetap dan biaya variabel untuk menentukan volume produksi atau penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas (di mana total pendapatan sama dengan total biaya).

Pengendalian Biaya: Dengan memahami komposisi biaya tetap dan biaya variabel, manajemen dapat mengidentifikasi area di mana penghematan biaya dapat dilakukan. Misalnya, meningkatkan efisiensi produksi untuk mengurangi biaya variabel atau mengevaluasi kembali pengeluaran tetap untuk menemukan peluang penghematan.

Pemahaman yang mendalam tentang biaya tetap dan biaya variabel sangat penting untuk pengelolaan keuangan yang efektif dalam bisnis. Biaya tetap memberikan stabilitas dan prediktabilitas dalam anggaran, sementara biaya variabel memungkinkan fleksibilitas dalam pengendalian biaya produksi dan penjualan. Dengan mengklasifikasikan biaya dengan benar dan menggunakan informasi ini untuk perencanaan, penentuan harga, dan pengendalian biaya, kita dapat meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas bisnis.

Jenis-Jenis Biaya Tetap

Biaya tetap adalah komponen penting dalam struktur biaya sebuah perusahaan. Jenis-jenis biaya tetap dapat bervariasi tergantung pada jenis bisnis dan operasinya. Berikut adalah penjelasan lengkap tentang berbagai jenis biaya tetap:

1. Sewa Bangunan

Deskripsi: Sewa bangunan adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyewa ruang kerja, pabrik, toko, atau gudang. Biaya ini tetap konstan sepanjang periode sewa, tidak terpengaruh oleh volume produksi atau penjualan.

Contoh:

  • Sebuah toko retail membayar sewa bulanan Rp20.000.000 untuk ruang tokonya.
  • Sebuah pabrik manufaktur membayar sewa tahunan Rp500.000.000 untuk fasilitas produksinya.

2. Gaji Karyawan Tetap

Deskripsi: Gaji yang dibayarkan kepada karyawan tetap atau staf administrasi merupakan biaya tetap karena jumlahnya tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan berubah.

Contoh:

  • Manajer keuangan yang menerima gaji tetap bulanan sebesar Rp15.000.000.
  • Gaji karyawan administrasi sebesar Rp10.000.000 per bulan.

3. Depresiasi Aset Tetap

Deskripsi: Depresiasi adalah alokasi biaya atas penggunaan aset tetap seperti mesin, peralatan, dan kendaraan selama masa manfaatnya. Biaya ini dihitung berdasarkan metode tertentu (seperti metode garis lurus) dan tetap konstan setiap periode.

Contoh:

  • Sebuah mesin produksi yang dibeli seharga Rp100.000.000 dengan masa manfaat 10 tahun akan memiliki biaya depresiasi tahunan sebesar Rp10.000.000.

4. Asuransi

Deskripsi: Premi asuransi yang dibayarkan secara periodik untuk melindungi aset perusahaan atau kesehatan karyawan adalah biaya tetap. Biaya ini tidak berubah selama periode kontrak asuransi.

Contoh:

  • Premi asuransi gedung sebesar Rp5.000.000 per tahun.
  • Premi asuransi kesehatan karyawan sebesar Rp2.000.000 per bulan.

5. Pajak Properti

Deskripsi: Pajak properti adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan bangunan atau tanah yang dimiliki perusahaan. Biaya ini tetap konstan selama periode pajak tertentu.

Contoh:

  • Pajak tahunan untuk properti pabrik sebesar Rp20.000.000.
  • Pajak properti kantor sebesar Rp10.000.000 per tahun.

6. Biaya Utilitas Tetap

Deskripsi: Beberapa biaya utilitas seperti listrik, air, dan gas dapat dianggap sebagai biaya tetap jika ada komponen tetap dalam tagihan yang harus dibayar setiap bulan, terlepas dari penggunaan.

Contoh:

  • Tagihan listrik bulanan yang memiliki biaya tetap sebesar Rp1.000.000, ditambah biaya variabel berdasarkan penggunaan.
  • Tagihan air bulanan dengan komponen tetap sebesar Rp500.000.

7. Pembayaran Pinjaman (Bunga Tetap)

Deskripsi: Pembayaran bunga pinjaman dengan suku bunga tetap adalah biaya tetap. Jumlah pembayaran bunga tidak berubah meskipun kondisi bisnis berubah.

Contoh:

  • Bunga tahunan pinjaman bank sebesar Rp50.000.000 dengan suku bunga tetap 5%.
  • Pembayaran bunga bulanan kredit investasi sebesar Rp5.000.000.

8. Biaya Pemeliharaan dan Perawatan Rutin

Deskripsi: Biaya pemeliharaan dan perawatan rutin untuk aset tetap seperti mesin dan peralatan sering kali merupakan biaya tetap karena diperlukan untuk menjaga aset dalam kondisi baik, terlepas dari tingkat produksi.

Contoh:

  • Biaya perawatan rutin mesin produksi sebesar Rp2.000.000 per bulan.
  • Biaya perawatan gedung kantor sebesar Rp3.000.000 per bulan.

9. Biaya Amortisasi

Deskripsi: Amortisasi adalah alokasi biaya untuk aset tak berwujud seperti paten atau hak cipta. Biaya ini dihitung berdasarkan umur manfaat aset tak berwujud dan tetap konstan setiap periode.

Contoh:

  • Amortisasi paten yang dibeli seharga Rp100.000.000 dengan masa manfaat 10 tahun sebesar Rp10.000.000 per tahun.
  • Amortisasi hak cipta sebesar Rp5.000.000 per tahun.

10. Biaya Kontrak Layanan Tetap

Deskripsi: Biaya yang dibayarkan untuk kontrak layanan jangka panjang seperti layanan keamanan, pembersihan, atau IT yang disepakati dalam jumlah tetap per periode.

Contoh:

  • Kontrak layanan keamanan sebesar Rp5.000.000 per bulan.
  • Kontrak layanan pembersihan gedung sebesar Rp3.000.000 per bulan.

11. Biaya Iklan Tetap

Deskripsi: Beberapa perusahaan memiliki kontrak iklan dengan biaya tetap yang harus dibayarkan setiap periode, terlepas dari perubahan volume penjualan atau produksi.

Contoh:

  • Kontrak iklan billboard tahunan sebesar Rp100.000.000.
  • Kontrak iklan majalah bulanan sebesar Rp10.000.000.

Memahami jenis-jenis biaya tetap sangat penting untuk manajemen keuangan yang efektif. Biaya tetap memberikan stabilitas dan prediktabilitas dalam anggaran, membantu perusahaan dalam perencanaan jangka panjang, dan pengendalian biaya. Dengan mengelola biaya tetap dengan baik, perusahaan dapat memastikan bahwa mereka memiliki dasar keuangan yang kuat untuk mendukung operasi sehari-hari dan pertumbuhan di masa depan.

Mau jadi Product Manager? Baca panduan lengkap Product Manager berikut.

Biaya Tetap VS Biaya Variabel

Pengertian Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Dalam manajemen keuangan dan akuntansi, memahami perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel sangat penting untuk pengelolaan keuangan yang efektif. Kedua jenis biaya ini memiliki karakteristik yang berbeda dan memengaruhi strategi keuangan serta operasional perusahaan.

Biaya Tetap (Fixed Costs)

Pengertian: Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah meskipun ada perubahan dalam volume produksi atau tingkat aktivitas bisnis. Dengan kata lain, biaya ini tetap konstan dalam jangka pendek, terlepas dari seberapa banyak barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Karakteristik:

  1. Konstan: Tidak berubah dengan perubahan volume produksi.
  2. Waktu: Bersifat tetap dalam periode waktu tertentu (misalnya bulanan atau tahunan).
  3. Pengaruh Aktivitas: Tidak dipengaruhi oleh tingkat aktivitas produksi atau penjualan.

Contoh-contoh Biaya Tetap:

  1. Sewa Bangunan: Biaya yang dibayarkan untuk menyewa ruang kantor, pabrik, atau toko tetap sama setiap bulan, terlepas dari jumlah produksi atau penjualan.
  2. Gaji Karyawan Tetap: Gaji yang dibayarkan kepada karyawan tetap seperti manajer dan staf administrasi.
  3. Asuransi: Premi asuransi yang dibayar secara periodik, misalnya asuransi gedung atau asuransi kesehatan karyawan.
  4. Depresiasi: Penyusutan aset tetap seperti mesin dan peralatan, yang dihitung berdasarkan metode yang konsisten (misalnya metode garis lurus).
Biaya Variabel (Variable Costs)

Pengertian: Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding dengan perubahan volume produksi atau tingkat aktivitas bisnis. Dengan kata lain, biaya ini meningkat ketika produksi meningkat dan menurun ketika produksi menurun.

Karakteristik:

  1. Bervariasi: Berubah secara langsung proporsional dengan perubahan volume produksi.
  2. Per Unit: Biaya per unit produk atau jasa tetap konstan, tetapi total biaya berubah sesuai dengan jumlah unit yang diproduksi.
  3. Pengaruh Aktivitas: Dipengaruhi secara langsung oleh tingkat aktivitas produksi atau penjualan.

Contoh-contoh Biaya Variabel:

  1. Bahan Baku: Biaya untuk bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, yang meningkat seiring dengan peningkatan produksi.
  2. Tenaga Kerja Langsung: Upah yang dibayarkan kepada pekerja produksi yang jumlahnya bergantung pada jumlah unit yang diproduksi.
  3. Komisi Penjualan: Komisi yang dibayarkan kepada tenaga penjualan berdasarkan jumlah penjualan yang dilakukan.
  4. Biaya Pengemasan: Biaya untuk bahan pengemasan yang digunakan untuk mengemas produk jadi.

Perbandingan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Untuk memahami lebih lanjut perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel, mari kita lihat beberapa aspek perbandingan berikut:

Perubahan Terhadap Volume Produksi
  • Biaya Tetap: Tidak berubah meskipun volume produksi berubah.
  • Biaya Variabel: Berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.

Contoh

  • Biaya Tetap: Sewa bangunan, gaji karyawan tetap, asuransi.
  • Biaya Variabel: Bahan baku, upah tenaga kerja langsung, komisi penjualan.
Perhitungan Total Biaya
  • Biaya Tetap: Total biaya tetap = Biaya tetap per unit x Jumlah unit produksi (tidak berubah).
  • Biaya Variabel: Total biaya variabel = Biaya variabel per unit x Jumlah unit produksi (berubah).
Dampak pada Harga Pokok Penjualan
  • Biaya Tetap: Tidak mempengaruhi harga pokok penjualan per unit secara langsung.
  • Biaya Variabel: Mempengaruhi harga pokok penjualan per unit secara langsung, karena total biaya variabel berubah sesuai dengan jumlah produksi.
Pengendalian Biaya
  • Biaya Tetap: Sulit untuk diubah dalam jangka pendek, biasanya perlu strategi jangka panjang untuk mengurangi biaya tetap (misalnya, negosiasi ulang kontrak sewa).
  • Biaya Variabel: Lebih mudah untuk dikendalikan dalam jangka pendek, bisa diatur dengan menyesuaikan volume produksi atau efisiensi penggunaan bahan baku.

Pentingnya Pemahaman Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Perencanaan Anggaran

Dengan memahami perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel, manajemen dapat membuat anggaran yang lebih akurat dan realistis. Ini penting untuk perencanaan keuangan jangka panjang dan pengambilan keputusan strategis.

Penentuan Harga Jual

Mengetahui struktur biaya tetap dan variabel membantu dalam menentukan harga jual yang tepat. Harga jual harus menutupi biaya variabel per unit dan memberikan kontribusi yang cukup untuk menutupi biaya tetap dan menghasilkan keuntungan.

Analisis Break-Even

Analisis titik impas (break-even analysis) menggunakan informasi tentang biaya tetap dan biaya variabel untuk menentukan volume produksi atau penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas (di mana total pendapatan sama dengan total biaya).

Pengendalian Biaya

Dengan memahami komposisi biaya tetap dan biaya variabel, manajemen dapat mengidentifikasi area di mana penghematan biaya dapat dilakukan. Misalnya, meningkatkan efisiensi produksi untuk mengurangi biaya variabel atau mengevaluasi kembali pengeluaran tetap untuk menemukan peluang penghematan.

Contoh Kasus Studi

Kasus 1: Perusahaan Manufaktur

Sebuah perusahaan manufaktur memproduksi kursi dengan biaya tetap tahunan sebesar Rp500.000.000 (termasuk sewa pabrik, gaji karyawan tetap, dan depresiasi mesin) dan biaya variabel sebesar Rp200.000 per unit kursi (termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya pengemasan).

  • Produksi 1.000 Unit: Total biaya tetap = Rp500.000.000, Total biaya variabel = Rp200.000 x 1.000 = Rp200.000.000, Total biaya = Rp700.000.000.
  • Produksi 2.000 Unit: Total biaya tetap = Rp500.000.000, Total biaya variabel = Rp200.000 x 2.000 = Rp400.000.000, Total biaya = Rp900.000.000.
Kasus 2: Bisnis Ritel

Sebuah toko ritel memiliki biaya tetap bulanan sebesar Rp100.000.000 (termasuk sewa toko, gaji karyawan tetap, dan utilitas) dan biaya variabel sebesar Rp50.000 per unit produk yang terjual (termasuk biaya pembelian produk dan komisi penjualan).

  • Penjualan 1.000 Unit: Total biaya tetap = Rp100.000.000, Total biaya variabel = Rp50.000 x 1.000 = Rp50.000.000, Total biaya = Rp150.000.000.
  • Penjualan 2.000 Unit: Total biaya tetap = Rp100.000.000, Total biaya variabel = Rp50.000 x 2.000 = Rp100.000.000, Total biaya = Rp200.000.000.

Memahami perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel sangat penting dalam pengelolaan keuangan dan strategi bisnis. Biaya tetap memberikan stabilitas dan prediktabilitas dalam anggaran, sementara biaya variabel memungkinkan fleksibilitas dalam pengendalian biaya produksi dan penjualan. Dengan mengklasifikasikan biaya dengan benar dan menggunakan informasi ini untuk perencanaan, penentuan harga, dan pengendalian biaya, kita dapat meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas bisnis.

Cara Menghitung Biaya Tetap dan Variabel

Menghitung biaya tetap dan variabel adalah langkah penting dalam manajemen keuangan dan analisis biaya. Pemahaman yang baik tentang bagaimana menghitung kedua jenis biaya ini memungkinkan perusahaan untuk mengendalikan pengeluaran, menetapkan harga produk atau jasa dengan tepat, dan merencanakan anggaran secara efektif. Berikut penjelasan lengkap tentang cara menghitung biaya tetap dan variabel:

1. Menghitung Biaya Tetap

Langkah-langkah Menghitung Biaya Tetap
  1. Identifikasi Semua Biaya Tetap: Mulailah dengan mengidentifikasi semua biaya yang tidak berubah dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Contoh biaya tetap termasuk sewa bangunan, gaji karyawan tetap, asuransi, dan depresiasi.
  2. Jumlahkan Semua Biaya Tetap: Setelah mengidentifikasi semua biaya tetap, jumlahkan biaya-biaya tersebut untuk mendapatkan total biaya tetap.

Contoh:

  • Sewa Bangunan: Rp10.000.000 per bulan
  • Gaji Karyawan Tetap: Rp15.000.000 per bulan
  • Asuransi: Rp5.000.000 per bulan
  • Depresiasi: Rp3.000.000 per bulan

Total Biaya Tetap per Bulan = Rp10.000.000 + Rp15.000.000 + Rp5.000.000 + Rp3.000.000 = Rp33.000.000

2. Menghitung Biaya Variabel

Langkah-langkah Menghitung Biaya Variabel
  1. Identifikasi Semua Biaya Variabel: Mulailah dengan mengidentifikasi semua biaya yang berubah dengan volume produksi atau penjualan. Contoh biaya variabel termasuk bahan baku, upah tenaga kerja langsung, biaya pengemasan, dan komisi penjualan.
  2. Hitung Biaya Variabel per Unit: Untuk setiap jenis biaya variabel, hitung biaya per unit produksi atau penjualan.
  3. Jumlahkan Biaya Variabel per Unit: Tambahkan semua biaya variabel per unit untuk mendapatkan total biaya variabel per unit.
  4. Hitung Total Biaya Variabel: Kalikan biaya variabel per unit dengan jumlah unit yang diproduksi atau dijual untuk mendapatkan total biaya variabel.

Contoh:

  • Bahan Baku per Unit: Rp20.000
  • Upah Tenaga Kerja Langsung per Unit: Rp10.000
  • Biaya Pengemasan per Unit: Rp5.000
  • Komisi Penjualan per Unit: Rp2.000

Total Biaya Variabel per Unit = Rp20.000 + Rp10.000 + Rp5.000 + Rp2.000 = Rp37.000

Jika perusahaan memproduksi 1.000 unit: Total Biaya Variabel = Rp37.000 x 1.000 = Rp37.000.000

3. Menghitung Total Biaya

Setelah menghitung biaya tetap dan biaya variabel, kita dapat menghitung total biaya untuk periode tertentu.

Rumus Total Biaya: Total Biaya=Biaya Tetap+Total Biaya VariabelTotal Biaya=Biaya Tetap+Total Biaya Variabel

Contoh:

  • Biaya Tetap per Bulan: Rp33.000.000
  • Total Biaya Variabel untuk 1.000 unit: Rp37.000.000

Total Biaya = Rp33.000.000 + Rp37.000.000 = Rp70.000.000

Contoh Kasus Praktis

Kasus: Perusahaan A

Perusahaan A memproduksi produk X. Biaya tetap bulanan perusahaan adalah sebagai berikut:

  • Sewa Pabrik: Rp20.000.000
  • Gaji Manajer: Rp10.000.000
  • Asuransi: Rp5.000.000
  • Depresiasi Mesin: Rp5.000.000

Biaya variabel per unit produk X adalah sebagai berikut:

  • Bahan Baku: Rp15.000
  • Upah Tenaga Kerja Langsung: Rp7.000
  • Biaya Pengemasan: Rp3.000
  • Komisi Penjualan: Rp2.000

Perusahaan memproduksi 5.000 unit produk X dalam sebulan.

Menghitung Biaya Tetap: Total Biaya Tetap = Rp20.000.000 + Rp10.000.000 + Rp5.000.000 + Rp5.000.000 = Rp40.000.000

Menghitung Biaya Variabel: Total Biaya Variabel per Unit = Rp15.000 + Rp7.000 + Rp3.000 + Rp2.000 = Rp27.000

Total Biaya Variabel untuk 5.000 unit = Rp27.000 x 5.000 = Rp135.000.000

Menghitung Total Biaya: Total Biaya = Biaya Tetap + Total Biaya Variabel Total Biaya = Rp40.000.000 + Rp135.000.000 = Rp175.000.000

Analisis Break-Even

Untuk menentukan titik impas (break-even point), kita perlu mengetahui berapa banyak unit yang harus dijual untuk menutupi total biaya.

Rumus Titik Impas:

Titik Impas (unit)= Biaya Tetap : Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit

Contoh:

Jika harga jual produk X adalah Rp50.000 per unit,

Titik Impas (unit)=𝑅𝑝40.000.000 : 𝑅𝑝50.000 − 𝑅𝑝27.000= 𝑅𝑝40.000.000 : 𝑅𝑝23.000≈1.739 unit

Perusahaan A perlu menjual sekitar 1.739 unit produk X untuk mencapai titik impas.

Menghitung biaya tetap dan variabel adalah langkah krusial dalam manajemen keuangan perusahaan. Dengan memahami dan menghitung kedua jenis biaya ini, perusahaan dapat merencanakan anggaran lebih efektif, menetapkan harga jual yang tepat, dan mengoptimalkan strategi bisnis. Penghitungan biaya tetap memberikan stabilitas dalam perencanaan jangka panjang, sementara penghitungan biaya variabel membantu dalam pengendalian biaya produksi dan penjualan. Menggunakan informasi ini, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih baik untuk mencapai efisiensi operasional dan profitabilitas yang lebih tinggi.

Tertarik jadi Data Analyst? Baca panduan lengkap Data Analysis ini.

Mari terus belajar dan kembangkan skill di MySkill