Mengenal Perbedaan SAK dan IFRS dalam Akuntansi

International Financial Accounting Standard (IFRS)

International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah seperangkat standar akuntansi internasional yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan oleh perusahaan di seluruh dunia. IFRS diterbitkan dan dikelola oleh International Accounting Standards Board (IASB), sebuah badan yang berbasis di London, Inggris. IFRS dirancang untuk menciptakan konsistensi dalam pelaporan keuangan internasional, meningkatkan transparansi, dan mempermudah perbandingan kinerja keuangan antar perusahaan yang beroperasi di berbagai negara.

Berikut adalah beberapa poin penting dalam penjelasan tentang IFRS:

  1. Tujuan IFRS:
    • IFRS bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja akuntansi yang konsisten dan bermakna yang dapat digunakan oleh perusahaan di seluruh dunia.
    • Tujuan utama IFRS adalah untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor dengan menyediakan informasi keuangan yang relevan, dapat diandalkan, dan mudah dipahami.
  2. Ruang Lingkup IFRS:
    • IFRS mencakup berbagai aspek laporan keuangan, termasuk pengukuran aset, kewajiban, pendapatan, biaya, ekuitas, dan laporan keuangan lainnya seperti neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas.
    • IFRS juga mencakup pedoman terkait dengan topik khusus seperti instrumen keuangan, akuntansi persediaan, akuntansi sewa, dan banyak lagi.
  3. Prinsip-prinsip IFRS:
    • IFRS didasarkan pada prinsip-prinsip akuntansi yang umumnya diterima (Generally Accepted Accounting Principles – GAAP), dengan penekanan pada prinsip-prinsip inti seperti keadilan, keandalan, keterbandingan, dan konsistensi.
    • Prinsip-prinsip IFRS mempromosikan penggunaan nilai wajar dan mengharuskan pengungkapan lengkap dan jelas dalam laporan keuangan.
  4. Penerapan IFRS:
    • Banyak negara di seluruh dunia telah mengadopsi IFRS atau memiliki rencana untuk melakukannya dalam waktu dekat. Di beberapa negara, penggunaan IFRS adalah wajib untuk perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa efek.
    • Penerapan IFRS dapat bervariasi dari negara ke negara, dan sering kali ada beberapa perbedaan antara IFRS dan standar akuntansi lokal. Namun, IFRS memungkinkan fleksibilitas dalam menerapkan standar dengan memperhitungkan keadaan setempat.
  5. Revisi dan Perkembangan:
    • IFRS terus mengalami revisi dan perkembangan sesuai dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan perubahan praktik bisnis global.
    • IASB melakukan konsultasi publik secara teratur dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di seluruh dunia untuk memastikan bahwa IFRS tetap relevan dan efektif.

IFRS telah menjadi standar akuntansi yang diakui secara internasional dan telah membantu meningkatkan kualitas dan konsistensi pelaporan keuangan di seluruh dunia. Meskipun masih ada tantangan dalam penerapan IFRS di beberapa negara, standar ini terus berkembang untuk menciptakan lingkungan akuntansi yang lebih konsisten dan transparan di tingkat global.

Penerapan IFRS di Indonesia

Penerapan International Financial Reporting Standards (IFRS) di Indonesia dimulai pada tahun 2012 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2012 tentang Penerapan IFRS untuk entitas terbatas di Indonesia. Sejak saat itu, penerapan IFRS secara bertahap telah dilakukan di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan transparansi laporan keuangan serta memfasilitasi perbandingan kinerja keuangan perusahaan Indonesia dengan perusahaan internasional.

Berikut adalah beberapa poin penting tentang penerapan IFRS di Indonesia:

  1. Adopsi Penuh IFRS: Indonesia telah mengadopsi IFRS sebagai standar akuntansi yang berlaku di Indonesia untuk entitas terbatas, termasuk perusahaan terbuka (publik), perusahaan besar, dan perusahaan lain yang memiliki kewajiban untuk menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi internasional.
  2. Penerapan Bertahap: Penerapan IFRS dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam regulasi pemerintah. Perusahaan terlebih dahulu mempersiapkan laporan keuangan konsolidasian berdasarkan IFRS, dan kemudian dilanjutkan dengan persiapan laporan keuangan individual.
  3. Peran Otoritas Standar Akuntansi: Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong penerapan IFRS di Indonesia. DSAK mengeluarkan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan yang Efektif (ISAKE) untuk membantu penggunaan IFRS secara konsisten.
  4. Perkembangan Standar Lokal: Meskipun Indonesia mengadopsi IFRS secara keseluruhan, tetapi terdapat perbedaan dalam interpretasi dan penerapan IFRS yang mungkin dibutuhkan untuk mengakomodasi praktik bisnis dan hukum lokal. Oleh karena itu, Indonesia juga memiliki standar akuntansi lokal yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Indonesia (DSAI), yang memperhitungkan keadaan setempat.
  5. Dukungan Pemerintah: Pemerintah Indonesia telah memberikan dukungan terhadap penerapan IFRS dengan memberikan regulasi dan panduan yang diperlukan serta menyediakan pelatihan dan pendampingan bagi perusahaan yang melakukan transisi ke IFRS.
  6. Dampak terhadap Industri dan Pasar Modal: Penerapan IFRS telah memiliki dampak yang signifikan terhadap industri dan pasar modal di Indonesia. Hal ini termasuk peningkatan transparansi, comparability, dan kepercayaan investor terhadap laporan keuangan perusahaan.

Meskipun penerapan IFRS di Indonesia telah berlangsung beberapa tahun, masih terdapat tantangan dalam implementasi penuh standar ini, terutama dalam hal kepatuhan, pemahaman, dan ketersediaan sumber daya manusia yang terlatih dalam bidang akuntansi. Namun, langkah-langkah yang telah diambil oleh pemerintah dan regulator bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan di Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Mau jadi Akuntan, Pajak atau Auditor? Baca panduan lengkap Akuntansi, Pajak dan Audit di sini.

Keuntungan Menggunakan IFRS

Menggunakan International Financial Reporting Standards (IFRS) memberikan berbagai keuntungan bagi perusahaan, investor, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya dalam ekosistem keuangan. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari penggunaan IFRS:

  1. Konsistensi dan Komparabilitas: IFRS menyediakan kerangka kerja akuntansi yang konsisten dan komparatif di seluruh dunia. Dengan adopsi IFRS, perusahaan dapat menghasilkan laporan keuangan yang dapat dibandingkan dengan perusahaan lain di negara-negara lain, sehingga memudahkan analisis kinerja dan evaluasi investasi.
  2. Transparansi dan Peningkatan Kepercayaan: IFRS mendorong transparansi dalam pelaporan keuangan dengan menyediakan pedoman yang jelas tentang pengungkapan informasi. Ini meningkatkan kepercayaan investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya terhadap laporan keuangan perusahaan.
  3. Akses ke Pasar Modal Global: Adopsi IFRS membuka pintu bagi perusahaan untuk mengakses pasar modal global dengan lebih mudah. Laporan keuangan yang disusun dengan menggunakan IFRS akan lebih mudah dipahami oleh investor internasional, sehingga meningkatkan daya tarik perusahaan untuk mendapatkan investasi dari luar negeri.
  4. Penurunan Biaya dan Efisiensi: Penggunaan IFRS dapat mengurangi biaya perusahaan karena memungkinkan penggunaan praktik akuntansi yang seragam di berbagai yurisdiksi. Selain itu, IFRS juga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan estimasi nilai wajar dalam penilaian aset dan kewajiban, yang dapat meningkatkan efisiensi operasional.
  5. Penilaian yang Lebih Akurat: IFRS memungkinkan penilaian yang lebih akurat dari aset, kewajiban, dan ekuitas. Standar ini memberikan pedoman yang jelas tentang pengukuran dan pengakuan aset, kewajiban, pendapatan, dan biaya, sehingga memastikan bahwa laporan keuangan mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara tepat.
  6. Fleksibilitas dalam Penyajian Laporan: IFRS memberikan fleksibilitas dalam penyajian laporan keuangan, sehingga perusahaan dapat menyusun laporan yang lebih relevan dan informatif sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan. Ini memungkinkan perusahaan untuk menyampaikan informasi keuangan dengan cara yang lebih efektif.
  7. Relevansi bagi Bisnis Multinasional: Bagi perusahaan yang beroperasi di beberapa negara, menggunakan IFRS memungkinkan penyajian laporan keuangan yang relevan dan konsisten di seluruh entitas bisnis. Ini mempermudah pengambilan keputusan dan pengelolaan risiko secara global.

Dengan berbagai keuntungan ini, adopsi IFRS telah menjadi tren global dan merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas dan transparansi pelaporan keuangan di tingkat internasional.

Mau jadi Product Manager? Baca panduan lengkap Product Manager berikut.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) ChatGPT

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah seperangkat standar akuntansi yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia. PSAK digunakan sebagai pedoman bagi perusahaan di Indonesia dalam menyusun laporan keuangan mereka. PSAK mengatur berbagai aspek akuntansi, termasuk pengukuran, pengakuan, pengungkapan, dan penyajian informasi keuangan.

Berikut adalah beberapa poin penting tentang PSAK:

  1. Tujuan PSAK: Tujuan utama PSAK adalah untuk menyediakan kerangka kerja yang konsisten dalam penyusunan laporan keuangan di Indonesia. PSAK dirancang untuk memastikan bahwa informasi keuangan yang disajikan oleh perusahaan adalah relevan, dapat diandalkan, dan bermanfaat bagi pemangku kepentingan.
  2. Otoritas Penetapan PSAK: Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia adalah badan yang bertanggung jawab untuk menetapkan PSAK. DSAK didirikan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan memiliki kekuatan hukum untuk mengeluarkan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.
  3. Sifat PSAK: PSAK terdiri dari standar-standar akuntansi yang mencakup berbagai topik akuntansi, mulai dari pengukuran aset dan kewajiban hingga pengakuan pendapatan dan biaya. PSAK bersifat wajib untuk diterapkan oleh perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa efek dan opsional untuk perusahaan non-publik.
  4. Pengembangan dan Revisi PSAK: PSAK terus berkembang sesuai dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan praktik bisnis. DSAK secara teratur melakukan peninjauan dan revisi PSAK untuk memastikan bahwa standar akuntansi tetap relevan dan efektif.
  5. Kesesuaian dengan Standar Internasional: Sebagian besar PSAK disesuaikan dengan standar internasional, termasuk International Financial Reporting Standards (IFRS). Namun, terdapat perbedaan antara PSAK dan IFRS dalam beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi dan kebutuhan khusus di Indonesia.
  6. Pengaruh terhadap Praktik Bisnis: Penerapan PSAK mempengaruhi praktik bisnis di Indonesia dengan memengaruhi cara perusahaan menyusun, melaporkan, dan mengelola informasi keuangan mereka. PSAK membantu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan.
  7. Dampak terhadap Pasar Modal: PSAK juga memiliki dampak signifikan terhadap pasar modal di Indonesia. Laporan keuangan yang disusun dengan menggunakan PSAK memberikan informasi yang lebih konsisten dan dapat dipercaya bagi investor, sehingga meningkatkan likuiditas dan efisiensi pasar modal.

Dengan demikian, PSAK memiliki peran yang sangat penting dalam penyusunan dan interpretasi laporan keuangan di Indonesia. Melalui penerapan PSAK, diharapkan perusahaan dapat menyajikan informasi keuangan yang akurat, relevan, dan dapat dipercaya bagi pemangku kepentingan.

Alasan Penggunaan PSAK

Penggunaan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) memiliki beberapa alasan yang menjadi landasan penting bagi praktik akuntansi di Indonesia. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa perusahaan di Indonesia menggunakan PSAK:

  1. Konsistensi dan Keseragaman: PSAK memberikan kerangka kerja yang konsisten dalam penyusunan laporan keuangan di Indonesia. Dengan adanya PSAK, perusahaan dapat memastikan bahwa praktik akuntansi mereka sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga menciptakan keseragaman dalam pelaporan keuangan.
  2. Komparabilitas: PSAK memungkinkan perbandingan kinerja keuangan antar perusahaan. Dengan menggunakan standar yang sama, laporan keuangan dari berbagai perusahaan dapat dibandingkan secara lebih mudah, baik di dalam negeri maupun internasional.
  3. Kepatuhan Hukum: PSAK merupakan standar akuntansi yang diakui secara resmi di Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan wajib mematuhi PSAK dalam penyusunan laporan keuangan mereka untuk memenuhi persyaratan hukum dan regulasi yang berlaku.
  4. Meningkatkan Transparansi dan Kepercayaan: PSAK mendorong transparansi dalam pelaporan keuangan dengan menyediakan pedoman yang jelas tentang pengungkapan informasi. Hal ini membantu meningkatkan kepercayaan investor, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya terhadap laporan keuangan perusahaan.
  5. Akses ke Modal Global: Adopsi PSAK memungkinkan perusahaan untuk mengakses pasar modal global dengan lebih mudah. Laporan keuangan yang disusun dengan menggunakan PSAK akan lebih mudah dipahami oleh investor internasional, sehingga meningkatkan daya tarik perusahaan untuk mendapatkan investasi dari luar negeri.
  6. Meningkatkan Akuntabilitas: PSAK membantu meningkatkan akuntabilitas perusahaan terhadap pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, kreditur, dan pemerintah. Dengan menggunakan standar yang diakui secara resmi, perusahaan diharapkan dapat menyajikan informasi keuangan yang lebih akurat dan dapat dipercaya.
  7. Penghematan Biaya: Menggunakan PSAK dapat membantu perusahaan menghemat biaya karena memungkinkan penggunaan praktik akuntansi yang seragam di berbagai yurisdiksi. Selain itu, PSAK juga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan estimasi nilai wajar dalam penilaian aset dan kewajiban, yang dapat meningkatkan efisiensi operasional.

Dengan demikian, penggunaan PSAK menjadi penting bagi perusahaan di Indonesia untuk memastikan konsistensi, transparansi, dan kepatuhan dalam penyusunan laporan keuangan mereka. Hal ini juga membantu menciptakan lingkungan bisnis yang lebih dapat dipercaya dan berkelanjutan.

Tertarik jadi Data Analyst? Baca panduan lengkap Data Analysis ini.

Jenis Jenis PSAK ChatGPT

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Indonesia mencakup berbagai standar yang mengatur berbagai aspek akuntansi keuangan. Berikut adalah beberapa jenis-jenis PSAK yang umumnya dikenal:

  1. PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan:
    • PSAK 1 memberikan pedoman tentang penyajian laporan keuangan yang harus diikuti oleh semua entitas di Indonesia. Ini mencakup format dan struktur laporan keuangan, serta persyaratan untuk pengungkapan informasi tambahan.
  2. PSAK 2: Laporan Arus Kas:
    • PSAK 2 mengatur penyajian informasi tentang arus kas dari kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan dalam laporan keuangan. Standar ini memberikan pedoman tentang bagaimana arus kas harus disajikan dan diungkapkan.
  3. PSAK 3: Laporan Laba Rugi:
    • PSAK 3 mengatur penyajian laporan laba rugi, yang mencakup pendapatan, biaya, laba bersih, dan laba per saham. Standar ini menetapkan prinsip-prinsip dasar yang harus diikuti dalam penyusunan laporan laba rugi.
  4. PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri:
    • PSAK 4 mengatur penyajian laporan keuangan tersendiri oleh entitas yang memiliki entitas anak, entitas asosiasi, atau entitas gabungan. Standar ini menetapkan persyaratan untuk penyajian laporan keuangan entitas tersendiri.
  5. PSAK 5: Laporan Keuangan Konsolidasian:
    • PSAK 5 mengatur penyajian laporan keuangan konsolidasian oleh entitas induk. Standar ini memberikan pedoman tentang bagaimana laporan keuangan konsolidasian harus disusun, termasuk konsolidasi entitas anak, asosiasi, dan gabungan.
  6. PSAK 6: Akuntansi Syariah:
    • PSAK 6 memberikan pedoman tentang praktik akuntansi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Standar ini mencakup pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi keuangan syariah.
  7. PSAK 7: Pengungkapan Pihak yang Memiliki Pengaruh Terhadap Entitas Lain:
    • PSAK 7 mengatur pengungkapan tentang pihak yang memiliki pengaruh signifikan terhadap entitas lain, seperti pihak yang memiliki saham mayoritas, pihak yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan keuangan, dan lain-lain.
  8. PSAK 8: Akuntansi Perbankan:
    • PSAK 8 memberikan pedoman tentang praktik akuntansi yang diterapkan oleh lembaga keuangan, khususnya bank. Standar ini mencakup pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi perbankan.
  9. PSAK 9: Akuntansi Leasing:
    • PSAK 9 mengatur pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi leasing. Standar ini memberikan pedoman tentang bagaimana entitas harus mengakuntansikan transaksi sewa sebagai penyewa dan sebagai lessor.
  10. PSAK 10: Pajak Penghasilan:
    • PSAK 10 memberikan pedoman tentang akuntansi untuk pajak penghasilan. Standar ini mencakup pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan kewajiban pajak penghasilan.

Ada banyak PSAK lainnya yang mengatur berbagai aspek akuntansi keuangan lainnya, seperti transaksi keuangan kompleks, instrumen keuangan, akuntansi persediaan, dan lain-lain. Setiap PSAK memiliki tujuan dan cakupan yang unik sesuai dengan topik yang diatur.

Perbedaan PSAK dan IFRS

Perbedaan antara Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Indonesia dan International Financial Reporting Standards (IFRS) terutama berkaitan dengan cakupan, penekanan, dan konteks penggunaannya. Berikut adalah beberapa perbedaan utama antara PSAK dan IFRS:

  1. Konteks Geografis:
    • PSAK adalah standar akuntansi yang berlaku di Indonesia, sedangkan IFRS adalah standar akuntansi yang diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB) dan digunakan di lebih dari 140 negara di seluruh dunia.
  2. Penetapan Standar:
    • PSAK ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Indonesia, sedangkan IFRS ditetapkan oleh International Accounting Standards Board (IASB).
  3. Adopsi Penuh vs Konvergensi:
    • Indonesia telah mengadopsi IFRS secara penuh untuk entitas terbatas, yang berarti bahwa PSAK secara substansial sejalan dengan IFRS. Namun, ada beberapa perbedaan yang masih ada antara PSAK dan IFRS, terutama dalam konteks kebutuhan dan praktik bisnis lokal.
  4. Penekanan pada Kebutuhan Lokal:
    • PSAK sering kali menekankan pada kebutuhan dan praktik bisnis lokal di Indonesia, sementara IFRS lebih bersifat global dan mencoba untuk mencakup berbagai kebutuhan dari berbagai negara. Oleh karena itu, ada beberapa perbedaan antara PSAK dan IFRS yang mencerminkan kondisi dan kebiasaan bisnis lokal.
  5. Konteks Regulasi:
    • PSAK sering kali mencerminkan regulasi dan kebijakan akuntansi yang berlaku di Indonesia, sementara IFRS lebih berfokus pada prinsip-prinsip akuntansi yang umumnya diterima secara internasional.
  6. Penekanan pada Syariah:
    • PSAK juga mencakup standar akuntansi yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam (akuntansi syariah), yang tidak selalu tercakup dalam IFRS.
  7. Pengaruh pada Laporan Keuangan:
    • Meskipun sebagian besar PSAK sejalan dengan IFRS, perbedaan antara kedua standar ini dapat mempengaruhi penyajian, pengukuran, dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Perusahaan di Indonesia harus memperhatikan perbedaan ini dan memastikan bahwa laporan keuangannya mematuhi kedua standar tersebut.

Meskipun ada perbedaan antara PSAK dan IFRS, tujuan utama dari kedua standar tersebut adalah untuk menyediakan kerangka kerja akuntansi yang konsisten, relevan, dan dapat dipercaya untuk penyusunan laporan keuangan. Oleh karena itu, perusahaan di Indonesia harus memahami perbedaan antara kedua standar ini dan memastikan bahwa praktik akuntansi mereka mematuhi kedua standar tersebut sesuai dengan kebutuhan dan konteks bisnis mereka.

Mari terus belajar dan kembangkan skill di MySkill