Review Buku The Choice Factory 25 Behavioural Biases..

Judul buku: The Choice Factory: 25 behavioural biases that influence what we buy

Penulis: Richard Shotton

Penerbit: Harriman House

Tahun penerbitan: 2018

“The Choice Factory: 25 Behavioral Biases That Influence What We Buy” adalah buku yang menarik dan informatif yang ditulis oleh seorang ahli pemasaran dan perilaku konsumen. Buku ini membahas 25 bias perilaku manusia yang berpengaruh dalam proses pembelian, memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana pikiran kita terjebak dalam pola pikir tertentu saat membeli produk atau layanan.

Penulis membahas masing-masing bias dengan gaya yang mudah dipahami, menggali akar penyebabnya, dan memberikan contoh konkret yang terjadi dalam kehidupan nyata. Dalam setiap bab, kita akan menyadari bagaimana pikiran bawah sadar mereka secara tidak langsung mempengaruhi keputusan pembelian sehari-hari.

Dari bias kepastian hingga kesan sosial, dari efek penempatan produk hingga imbas penilaian, buku ini menyediakan perspektif yang baru dan mendalam tentang perilaku konsumen. Para pemasar, pelaku bisnis, dan siapa pun yang tertarik untuk memahami lebih lanjut tentang dinamika di balik keputusan pembelian akan menemukan buku ini sangat berharga.

Dengan pendekatan yang didukung oleh riset dan studi kasus, “The Choice Factory” memberikan alat dan wawasan praktis bagi para profesional pemasaran untuk meningkatkan efektivitas kampanye mereka. Buku ini juga cocok untuk mereka yang ingin mengetahui lebih dalam tentang mengapa kita, sebagai konsumen, melakukan keputusan belanja yang mungkin sebelumnya dianggap tidak rasional. Dengan gaya penulisan yang menghibur dan pemahaman yang mendalam, buku ini akan membuka mata kita terhadap berbagai cara di mana kita sebagai konsumen dapat dipengaruhi dan dipandu dalam memahami alasan di balik pilihan-pilihan kita.

Mau jadi Digital Marketer? Baca panduan lengkap Digital Marketing berikut.

Key Summary:

  1. Kita cenderung lebih memilih produk yang memberikan jaminan kualitas, dan ini disebut “Bias of Certainty”: Pemasar harus menyoroti jaminan kualitas dan keandalan produk mereka untuk mengurangi kecemasan pembeli dan meningkatkan kepercayaan.
  2. Kita cenderung memilih produk yang menawarkan kesan sosial yang positif, yang dikenal sebagai “Social Proof”: Pemasar harus menggunakan bukti sosial, seperti testimoni pelanggan atau jumlah produk yang terjual, untuk mempengaruhi keputusan pembelian kita.
  3. Kita seringkali lebih memilih produk yang mudah dijangkau, yang dikenal sebagai “Availability Heuristic”: Pemasar harus memudahkan akses produk atau informasi tentang produk, sehingga kita cenderung memilih produk tersebut secara otomatis.
  4. Kita cenderung membeli produk yang berhubungan dengan perasaan positif atau kenangan masa lalu, yang dikenal sebagai “Affect Heuristic”: Pemasar harus menghubungkan produk mereka dengan emosi positif atau pengalaman berkesan untuk meningkatkan daya tariknya bagi kita.
  5. Kita cenderung lebih memilih produk yang populer dan banyak digunakan orang lain, yang disebut “Bandwagon Effect”: Pemasar harus menunjukkan popularitas produk mereka dan menggambarkan banyaknya orang yang telah memilih produk tersebut untuk mempengaruhi keputusan kita.
  6. Kita cenderung membeli produk yang kita lihat secara terus-menerus, yang dikenal sebagai “Exposure Effect”: Pemasar harus mengekspos kita pada produk secara berulang melalui iklan, media sosial, atau kampanye pemasaran lainnya untuk memperkuat preferensi kita terhadap produk tersebut.
  7. Kita cenderung memberikan lebih banyak perhatian pada informasi baru yang relevan dengan keyakinan atau preferensi kita sebelumnya, yang dikenal sebagai “Confirmation Bias”: Pemasar harus menyusun pesan yang mendukung keyakinan atau nilai-nilai kita agar kita cenderung lebih terbuka terhadap produk tersebut.
  8. Kita cenderung membeli produk yang kita lihat sebagai “mudah terjangkau” dari sudut pandang waktu atau uang, yang dikenal sebagai “Narrow Framing”: Pemasar harus mengkomunikasikan nilai produk dalam kerangka waktu atau biaya yang terjangkau untuk meningkatkan daya tariknya.
  9. Kita cenderung memilih produk yang memberikan kepuasan segera daripada manfaat jangka panjang, yang dikenal sebagai “Present Bias”: Pemasar harus menonjolkan manfaat dan kepuasan instan dari produk mereka untuk mendorong keputusan pembelian saat ini.
  10. Kita cenderung terpengaruh oleh apa yang orang lain anggap sebagai norma sosial, yang dikenal sebagai “Descriptive Norms”: Pemasar harus menekankan bahwa produk mereka merupakan pilihan yang konsisten dengan apa yang dianggap sebagai norma oleh mayoritas orang.
  11. Kita cenderung lebih menyukai produk yang terbatas atau jarang tersedia, yang dikenal sebagai “Scarcity Bias”: Pemasar harus menciptakan persepsi tentang keterbatasan produk, misalnya dengan menawarkan produk dalam jumlah terbatas atau waktu terbatas.
  12. Kita cenderung memilih produk yang sesuai dengan identitas pribadi kita, yang dikenal sebagai “Self-Serving Bias”: Pemasar harus menampilkan produk mereka sebagai ekstensi dari identitas kita, sehingga kita merasa lebih terkait secara emosional dengan produk tersebut.
  13. Kita cenderung memilih produk yang mudah diingat atau dikenali, yang dikenal sebagai “Recognition Heuristic”: Pemasar harus menggunakan merek yang mudah diingat dan identitas visual yang kuat untuk membuat produk mereka lebih mudah dikenali dan diingat oleh kita.
  14. Kita cenderung memilih produk yang memberikan “kesan kepastian” dalam lingkungan yang tidak stabil, yang dikenal sebagai “Anchoring Bias”: Pemasar harus menonjolkan fitur atau manfaat produk mereka yang memberikan kepastian dan stabilitas di tengah-tengah perubahan.
  15. Kita cenderung lebih memilih produk yang menawarkan hadiah atau manfaat tambahan, yang dikenal sebagai “Endowment Effect”: Pemasar harus menyoroti manfaat tambahan atau bonus yang diberikan bersama dengan pembelian produk untuk meningkatkan daya tariknya bagi kita.

Mari terus belajar dan kembangkan skill di MySkill

Tinggalkan Balasan