Kenali Dampak dan Tanda Toxic Positivity. Kamu Termasuk?

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita berusaha untuk mempertahankan pemikiran positif dan menghadapi tantangan dengan sikap optimis. Namun, terkadang dalam usaha untuk menjaga semangat yang tinggi, kita bisa saja terjebak dalam pola pikir yang disebut toxic positivity.
Mari kita telaah lebih dalam apa itu toxic positivity, dampaknya, dan tanda-tandanya agar kita dapat mengenali serta mengatasi pola pikir yang tidak sehat ini.

Mau jadi Digital Marketer? Baca panduan lengkap Digital Marketing berikut.

Apa itu Toxic Positivity?

Toxic positivity menjadi semakin relevan dalam budaya yang serba cepat dan tekanan sosial yang tinggi. Saat ini, kita sering mendapati diri kita atau orang lain menggunakan frasa-frasa seperti “Semua akan baik-baik saja” atau “Berpikir positif saja” tanpa menyadari bahwa hal ini sebenarnya dapat merugikan.

Dampak Toxic Positivity

Dibalik tirai optimisme yang berlebihan, terdapat sejumlah dampak negatif yang mungkin tidak kita sadari:

  1. Mengabaikan Emosi Negatif: Mengabaikan atau menekan emosi negatif seperti kesedihan, kecemasan, atau kemarahan dapat menyebabkan penumpukan emosi yang tidak sehat dalam diri.
  2. Mengurangi Keterbukaan Emosional: Ketika orang-orang di sekitar kita hanya berfokus pada aspek positif dari situasi, itu dapat membuat orang merasa tidak aman untuk berbagi pengalaman negatif mereka.
  3. Meningkatkan Stres dan Kecemasan: Dengan mengabaikan atau menolak emosi negatif, kita mungkin merasa stres atau cemas karena merasa tekanan untuk “berpikir positif” sepanjang waktu.

Mau jadi UI-UX Designer? Cek panduan lengkap UI-UX Design berikut.

Tanda-tanda Toxic Positivity

  1. Menghindari Emosi Negatif: Orang yang menganut pola pikir toxic positivity seringkali menghindari pembicaraan tentang emosi negatif atau berusaha untuk “menyamarkan” perasaan tersebut.
  2. Penggunaan Frasa Klise Berlebihan: Penggunaan frasa-frasa seperti “Semua akan baik-baik saja” atau “Berhenti merasa sedih” secara berlebihan dapat menjadi tanda-tanda pola pikir toxic positivity.
  3. Menekan Perasaan Negatif Orang Lain: Orang yang menggunakan toxic positivity mungkin akan menekan atau menyalahkan orang lain atas perasaan negatif mereka, dengan mengatakan bahwa mereka “terlalu sensitif” atau “berlebihan”.

Mengatasi Toxic Positivity

Untuk mengatasi toxic positivity, kita perlu:

  1. Meningkatkan Keterbukaan Emosional: Belajar untuk merasakan dan mengungkapkan emosi negatif dengan jujur, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
  2. Membangun Keterampilan Empati: Belajar untuk mendengarkan dan mendukung orang lain dalam pengalaman emosional mereka tanpa menghakimi atau mengabaikan perasaan mereka.
  3. Mengakui Keseimbangan Emosi: Mengakui bahwa pemikiran positif tidak selalu merupakan solusi untuk masalah, dan penting untuk menghargai serta menangani perasaan negatif secara seimbang.

Tertarik jadi Graphic Designer? Baca panduan lengkap Graphic Design di sini.

Toxic positivity dapat memiliki dampak yang merugikan pada kesejahteraan mental dan emosional. Dengan mengenali tanda-tandanya dan mengatasi pola pikir ini dengan praktek keterbukaan emosional, pembangunan keterampilan empati, dan menyadari bahwa pemikiran positif tidak selalu merupakan solusi untuk segala hal, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua orang untuk merasakan dan mengungkapkan perasaan mereka dengan jujur dan tanpa hambatan.

Mari terus belajar dan kembangkan skill di MySkill

Tinggalkan Balasan