Perfeksionis Adalah Kebanggaan? Baca Dulu Penjelasan Ini!

2 min read

Orang dengan karakter perfeksionis kebanyakan harus merasa sempurna dalam melakukan segala sesuatu entah itu dalam hal sekolah, kerja, hubungan, dan kehidupan bermasyarakat.

Perfeksionis artinya tidak bisa relaks pada dirinya, seperti harus berjalan lurus terus dan menanjak mencapai tujuan. Merasa tidak boleh belok atau turun sedikit, padahal hidup itu dinamis jelas dong, ada beloknya dan naik turunnya. 

Bila merasa lelah secara fisik dan mental, kemudian jalan hidup yang ditempuh harus lurus dan menanjak, nantinya bisa berakibat pada perasaan hampa dalam diri. Sebab, seringnya tidak sesuai dengan hati nurani karena hanya mencari pujian dan pengakuan eksternal.

Sobat MySkill sadar nggak sih, kalau sebenarnya segala sesuatu itu ada alasan di baliknya? Ada “the big why” dari karakter perfeksionis yang sering membuat orang-orang sekitar kesal karena nggak bisa santai? Mengapa?

Akar Masalah Dari Perfeksionis 

Sifat perfeksionis mengharuskan diri sendiri untuk selalu sempurna padahal itu hanya menyebabkan penderitaan dan kehampaan dalam diri
Sifat perfeksionis mengharuskan diri sendiri untuk selalu sempurna padahal itu hanya menyebabkan penderitaan dan kehampaan dalam diri

1. Berasal dari Tipe Parenting yang Mengharuskan Serba Sempurna

Banyak orang tua yang mewajibkan anaknya untuk menjadi yang terbaik atau selalu melakukan segala hal dengan sempurna tanpa cela
Banyak orang tua yang mewajibkan anaknya untuk menjadi yang terbaik atau selalu melakukan segala hal dengan sempurna tanpa cela

Biasanya sifat perfeksionis ini terbentuk dari lingkungan terdekat seseorang yaitu rumah. Rumah merupakan tempat belajar seorang anak untuk pertama kalinya mengenai segala hal. 

Terkadang orang tua meminta si anak untuk menjadi yang terbaik, bahkan ada yang sampai mengajari untuk melakukan hal ilegal untuk mencapainya. Misalnya membayar guru agar nilai bagus, menggunakan joki ujian, hingga mencurangi temannya hanya untuk mendapat predikat “The Best“.

Tidak sedikit juga orang tua yang menakuti anak jika tidak patuh dengan mereka, seperti “Nanti mama ngga kasih makan lho ya kalo nilai ujiannya jelek lagi!” atau “Papa nggak mau ngajak jalan-jalan lagi kalo kamu kalah di lomba itu”.

Mengingat memori demikian tentunya membuat diri tidak nyaman. Namun, bukan berarti berbagai kejadian tidak menyenangkan tersebut menjadi bahan untuk menyalahkan orang tua bahkan membenci mereka. 

Orang tua melakukan hal yang menyakitkan pada kita karena mereka sendiri pun merasa sakit dan pernah mengalami hal serupa dalam hidupnya. 

Bedanya mereka tidak pernah menyadari hal tersebut, sedangkan kamu mendapat pencerahan dengan adanya kesadaran.

Baca juga: 5 Teknik Copywriting yang Baik untuk Content Marketing, Kamu Harus Coba!

2. Berdasarkan Emosi Takut, Bukan Emosi Cinta Kasih

Akar masalah sesungguhnya adalah rasa takut yang berada pada lapisan pikiran bawah sadar atau unconscious mind
Akar masalah sesungguhnya adalah rasa takut yang berada pada lapisan pikiran bawah sadar atau unconscious mind

Rasanya mungkin menyakitkan untuk melewati ini. Namun, ketika menyadari emosi apa yang sebenarnya mendasari perfeksionis, itu malah bisa jadi momentum pencerahanmu. Ingat bahwa kesadaran adalah kunci. 

Menyadari bahwa karakter perfeksionis tidak berdiri sendiri, ada emosi takut yang besar yang berada di pikiran bawah sadar (unconscious mind). Kemudian memaafkan diri sendiri yang sebelumnya tidak tau karena terlalu memaksa diri untuk mendapat pengakuan dari orang lain dan memaafkan mereka yang membuatmu selalu merasa ketakutan akan berbagai hal. 

Yang terakhir adalah menerima kejadian tersebut seperti apa adanya. Menerima bahwa hal itu pernah terjadi padamu dan tidak apa-apa, hal tersebut tidak mendefinisikan dan menentukan siapa kamu, Sobat. 

Bersantailah terhadap diri sendiri, jika terjadi kesalahan kecil atau tidak sesuai harapan ya, tidak apa-apa. Itu termasuk ramah pada diri sendiri, Sobat! Perfeksionis artinya tidak baik pada diri sendiri karena merasa harus melakukan semuanya sesuai dengan sempurna dan sesuai rencana. 

Masa sih, sama orang lain baik dan ramah, tapi dengan diri sendiri justru sering merendahkan? Jika begitu terus, bagaimana mungkin mengharapkan orang lain bisa menghargai kita, kan?

Baca juga: 4 Aplikasi Copywriting Bikin Tulisan Kamu Makin Keren!

Tidak perlu langsung kebakaran jenggot dan marah sampai meledak-ledak, ya. Hindari menjadi orang yang reaktif jika ada hal-hal yang di luar kendali atau tidak sesuai harapan. Maafkan Sobat sendiri, menyadari dan menerima bahwa kamu adalah manusia biasa dan itu sangat normal jika ada sesuatu yang tidak sesuai rencana.

Kita memang perlu berusaha melakukan yang terbaik, tapi bukan berarti segala sesuatu harus sempurna ya, Sobat MySkill. Ingat, kesadaran adalah kunci! Sadari bahwa ada hal-hal yang memang di luar kontrol kita dan saat mencoba bahkan memaksa, yang terjadi malah menimbulkan penderitaan dalam diri.

Sobat MySkill sendiri apakah mendefinisikan dirinya sebagai perfeksionis? Jika iya, yuk coba disadari kenapa menjadi perfeksionis dan hal-hal apa saja yang membuat sobat MySkill takut jika ekspektasi tidak tercapai. 

MySkill merupakan platform penyedia layanan yang membantu anak muda Indonesia dalam merintis karir impiannya secara end-to-end. Produk MySkill antara lain intensive bootcamp bersertifikat secara e-learning dalam berbagai bidang seperti digital marketing, product management, data science, UI/UX Design, frontend website development, upgrade CV, career mentoring, dan lain sebagainya. Langsung aja cek website kami!

Baca juga: Intip 5 Design Tools untuk Digital Marketing yang Mudah untuk Kamu Gunakan

Penulis: Salsabila

Editor: Alifa Justisia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *