Perbedaan Sistem Pendidikan Indonesia dan Luar Negeri, Unggul Luar Negeri?

Pendidikan masih menjadi jalan terbaik menuju masa depan yang lebih berkualitas. Bukan hanya demi kecerdasan akademik, melainkan kecerdasan karakter juga. Siswa sampai mahasiswa memegang peran penting bagi dirinya dan lingkungannya. Untuk itu, pendidikan terus menjadi hal krusial untuk dijalani bagi setiap anak bangsa. Tentu, semua sistem pendidikan berbagai negara memberi pengarahan pada peningkatan kualitas diri. Namun, melihat makin banyaknya putra bangsa yang memilih menuntut ilmu di luar negeri, apakah bisa ditafsirkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih perlu diperbaiki?

Apa yang membuat pendidikan luar negeri seakan lebih unggul dari sistem pendidikan di Indonesia? Simak perbedaannya berikut.

1. Biaya Pendidikan

Pemerintahan luar negeri memberikan akses pendidikan secara gratis

Masyarakat Indonesia masih dominan menaruh pertimbangan ekonomi di skala prioritas. Hal itu menjadikan keluarga kaya mampu mengakses pendidikan secara komprehensif. Sebaliknya, keluarga yang makan sehari tiga kali saja tidak bisa, pasti mempertimbangkan berkali-kali untuk mendaftarkan anaknya sekolah. Dengan begitu, ketimpangan akan semakin tinggi. Di luar negeri, kebanyakan pemerintahnya memberikan akses gratis untuk sektor pendidikan. Bahkan fasilitas yang disediakan memadai dan menunjang penuh proses pembelajaran. Misalnya: Jerman, Norwegia, Swedia, atau Finlandia, 

Berbeda dengan Indonesia, fasilitas tergantung kesanggupan biaya. Semakin mahal, maka fasilitasnya semakin lengkap, begitu sebaliknya. Walaupun pemerintah Indonesia sudah membantu memberikan beasiswa, tetapibantuan ini masih belum merata. Banyak anak desa yang tinggal di permukiman jauh dari kota dan sama sekali tidak mendapatkan saluran bantuan tersebut.

2. MOS dan OSPEK

MOS dan OSPEK di luar negeri lebih seru dan tidak wajib
MOS dan OSPEK di luar negeri lebih seru dan tidak wajib

Perlu kamu ingat, MOS untuk siswa dan OSPEK untuk mahasiswa. Di luar negeri, dominan negaranya tidak mewajibkan kedua hal tersebut. Atau, jika memang diadakan, kegiatannya hanya melakukan hal-hal menyenangkan. Misalnya: keliling kampus/sekolah, permainan, atau festival bagi siswa/mahasiswa baru. MOS/OSPEK di luar negeri pun tidak ada senioritas. Contohnya: Jerman, Australia, atau Malaysia.

3. Lama Belajar di Kelas

 Jam belajar Indonesia jauh lebih lama dibandingkan Finlandia
Jam belajar Indonesia jauh lebih lama dibandingkan Finlandia

Perbedaan untuk lama waktu belajar di Indonesia dan luar negeri ini cukup tipis. Rentang waktu belajar di luar negeri pun beragam, tergantung kebijakan negaranya. Di Indonesia sendiri, siswa SD belajar sekitar 3–4 jam, SMP 7 jam, SMA 7–8 jam. Sedangkan di luar negeri misalnya Finlandia sebagai negara terbaik dalam sistem pendidikan, hanya menerapkan 4–5 jam saja per hari. Untuk siswa SMA, lebih fleksibel lagi karena datang sesuai mata pelajaran yang sudah mereka pilih. Di Singapura, Jepang, dan China hampir mirip dengan Indonesia yaitu 6–7 jam sehari. Setelah pulang, ada siswa yang memilih mengikuti ekstrakurikuler, mengerjakan tugas, maupun les tambahan bagi siswa yang ingin masuk sekolah/kampus terbaik. Berbeda dengan Korea Selatan, pukul 08:00–22:00 mereka belajar bersama guru dan mandiri (dikoordinasi oleh guru).

Perbedaan lama belajar tidak begitu jauh jika Indonesia dibandingkan dengan Singapura, Jepang, dan China. Akan tetapi sangat berbeda dengan Korea dan negara pendidikan terbaik—Finlandia. Kemudian, aspek biaya pun masih cukup menjadi bahan pertimbangan. Indonesia tidak sepenuhnya gratis untuk pendidikan, tetapi pemerintah luar negeri memberikan akses gratis pendidikan bagi warganya.

Menurut kalian, dengan perbedaan-perbedaan di atas, mana yang lebih unggul sistem pendidikannya? Coba kalian tulis di kolom komentar negara pilihan untuk bersekolah/kuliah ya. Apakah tetap Indonesia atau luar negeri?

Baca juga:  Ini 5 Tips Ampuh Supaya Kamu Jadi Mahasiswa Berprestasi

Kamu berencana studi di luar negeri, tetapi masih bimbang? MySkill menyediakan beberapa kelas mengenai Beasiswa dan Studi Lanjut, lho. Yuk gabung!

Penulis: Anjar Pratiwi