Reksa Dana Pasar Uang vs. Deposito, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Berkembangnya aplikasi-aplikasi investasi di zaman sekarang telah mendorong literasi finansial di tengah masyarakat. Investasi yang awalnya identik dengan kalangan atas sekarang merambah ke kalangan pedagang, pekerja, bahkan pelajar. Beberapa investasi yang merakyat itu adalah reksa dana pasar uang (RDPU) dan deposito.

Pertumbuhan reksa dana pasar uang dibanding instrumen investasi lain begitu signifikan, yaitu naik hingga 17,7 persen pada tahun 2021. Sementara itu, pertumbuhan deposito naik sedikit di angka 0,3 persen per Oktober 2021 menurut BI (Bank Indonesia).

Mungkin, kamu bertanya-tanya, apa, sih, perbedaan keduanya? Mana pula yang lebih menguntungkan? Yuk, kita bandingkan komponennya satu per satu!

1. Definisi Reksa Dana Pasar Uang dan Deposito

Definisi Reksa Dana Pasar Uang dan Deposito. Pexels
Pada reksa dana, dana hasil himpunan dikelola oleh manajer investasi

Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, Reksa Dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan oleh manajer investasi (MI) dalam portofolio efek.

Jadi, pada instrumen ini, masyarakat tinggal menyerahkan uang kepada perusahaan yang memberikan pelayanan. Masalah ke mana uang akan diinvestasikan, masyarakat juga tak perlu pusing. Sebab, ini sudah menjadi tanggung jawab MI.

Selain itu, instrumen ini memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah pasar uang. Untuk tipe ini, MI akan menginvestasikan dana himpunan dalam surat-surat berharga yang jatuh tempo dalam jangka waktu 1 tahun atau kurang. Ini meliputi deposito, surat berharga negara (SBN), obligasi, dan surat berharga lainnya.

Sementara itu, deposito adalah produk penyimpanan uang dari bank di mana penyetoran dana terjadi hanya di awal. Setelah itu, nasabah bank harus menunggu dalam jangka waktu tertentu untuk dapat menarik kembali modal dan keuntungan. Nantinya, terdapat bunga yang akan nasabah dapatkan jika mengikuti produk keuangan ini.

2. Kepastian Keuntungan dan Risiko

Kepastian Keuntungan dan Risiko. Pexels
Kebijakan bank sentral memengaruhi bunga pada deposito

Untuk melihat mana yang lebih menguntungkan antara RDPU dan deposito, kita bisa melihat perbandingan risiko dan keuntungan dari keduanya:

a. Perbandingan risiko

Setiap orang tentu ingin melakukan investasi yang menghasilkan keuntungan besar, tapi dengan risiko rendah. Kebetulan, kedua instrumen ini memiliki risiko yang rendah. 

Deposito adalah produk keuangan yang memiliki jaminan dari LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Itu artinya, selama uang yang Sobat depositkan di bawah Rp2 miliar, kamu akan mendapat jaminan penuh.

Hal ini berguna jika bank tiba-tiba berada dalam masalah atau mengalami gagal bayar. Dananya akan terjamin sepenuhnya. Jika di atas Rp2 miliar, jaminan hanya meng-cover sampai Rp2 miliar.

Sementara itu, risiko reksa dana pasar uang “lebih besar”. Pertama, instrumen ini tidak mendapat jaminan LPS. Instrumen ini murni produk investasi, bukan produk simpanan di mana kita menyimpan di bank. Namun, Sobat tidak perlu takut. Selama penjualnya terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), bakal aman, kok!

b. Perbandingan keuntungan

Keduanya dapat memiliki keuntungan yang berubah-ubah, tetapi reksa dana pasar uang lebih mudah berubah. Itu karena dananya secara aktif ditransaksikan oleh MI ke dalam produk-produk surat berharga yang ada di pasar keuangan. Nah, di dalam pasar keuangan, banyak juga yang memperjualbelikan produk-produk tersebut sehingga sewaktu-waktu, harganya bisa lebih rendah atau lebih tinggi. 

Walaupun begitu, di antara reksa dana lain, return atau ‘imbal hasil’ RDPU paling jarang minus karena produk targetnya—surat berharga, deposito, dan obligasi perusahaan—cenderung stabil. Alhasil, kenaikan imbal hasil juga tidak terlalu besar. Kendati demikian, karena aktif menjualbelikan produk investasinya, return RDPU cenderung sedikit lebih besar daripada deposito.

Return deposito sangat bergantung pada suku bunga acuan BI, yakni BI 7-Day Repo Rate. Itu artinya, Sobat tidak bisa mengekspektasikan nilai imbal hasil akan berubah drastis dalam waktu yang dekat, kecuali terdapat kondisi ekonomi negara yang berubah.

Karena return-nya tidak secara langsung bergantung pada kondisi jual beli pasar keuangan, wajar jika deposito menjanjikan angka persentase yang lebih kecil.

3. Fleksibilitas Reksa Dana Pasar Uang vs. Deposito

Fleksibilitas. Pexels
Di reksa dana pasar uang, kamu diberikan keleluasaan untuk menyetor

Fleksibilitas merupakan keunggulan sekaligus topik promosi reksa dana pasar uang. Pertama, masalah jumlah setoran awal. Beberapa perusahaan manajemen reksa dana berani memberikan minimum setoran sebesar Rp10 ribu.

Hal ini tentu memberikan orang keleluasaan untuk sering menyetor, termasuk pelajar sekalipun. Kondisi berbeda terdapat pada deposito di mana modal setorannya biasanya ada di angka jutaan rupiah.

Kedua, masalah likuiditas. Bosan dengan RDPU? Ingin sesuatu yang lebih? Jual saja saat itu juga! Selang waktu 2–3 hari, dana awal beserta imbal hasil sudah berada di rekeningmu. Kalau bosan di deposito, Sobat mau tidak mau harus menunggu hingga jangka waktunya berakhir sesuai kesepakatan—bisa 1, 3, 6, hingga 12 bulan.

Namun, kalau benar-benar butuh uang saat itu juga, Sobat harus siap terkena penalti atau denda. Penaltinya adalah Sobat harus membayar 0,5 persen biaya denda dari dana deposito. Sementara itu, bunga deposito umumnya berada di angka 3,5–5 persen. Jadi, berasa banget, ya?

Baca Juga: Menuju Decacorn! Kenali 4 Startup Unicorn E-Commerce di Indonesia!

4. Pengelolaan dan Pemanfaatan Reksa Dana Pasar Uang vs. Deposito

Pengelolaan dan Pemanfaatan Reksa Dana Pasar Uang vs Deposito. Pexels
Uang hasil himpunan deposito bisa untuk membiayai kredit masyarakat

Berbicara seputar pengelolaan, reksa dana pasar uang dan deposito tentu dikelola oleh pihak yang sudah kompeten. Sobat bisa mengecek legalitasnya, seperti apakah bank sudah terdaftar di atau aset perusahaan manajemen berizin OJK. Namun, terdapat beberapa perbedaan mendasar terkait cara mereka mengelola uangmu.

Pada reksa dana pasar uang, dana nasabah secara aktif ditransaksikan dalam surat-surat berharga di pasar keuangan. Ini menjadi seperti trading, tetapi bedanya, kamu menunjuk orang lain untuk melakukannya. SBN pun juga bisa menjadi target belinya. Ini tentu membuat Sobat secara tidak langsung membantu negara.

Sebaliknya, deposito memiliki pengelolaan yang berbeda dari trading. Pihak bank akan mengumpulkan uang dalam depositomu untuk selanjutnya menjadi modal berbagai kredit yang bank sediakan. Keuntungan yang Sobat dapatkan tentu merupakan beberapa persen hasil dari bunga kredit tersebut, bukan dari aktivitas perdagangan jual dan beli di pasar keuangan.

Meskipun begitu, Sobat juga ikut membantu berbagai UMKM dan masyarakat di luar sana yang sedang membutuhkan dana untuk pengembangan usahanya, lo! Keren, kan?

5. Pajak

Pajak. Pexels
Pajak pada reksa dana sudah ditanggung manajer investasi

Pada produk reksa dana pasar uang, pajak sudah menjadi tanggung jawab manajer investasi sehingga ketika melakukan penarikan, dana sudah tidak terkena pengurangan pajak lagi.

Sebaliknya, deposito adalah objek pajak sehingga penghasilan yang kamu dapatkan dari bunga deposito akan dikenakan pajak atas penghasilan (PPh) sebesar 20 persen. Wah, lumayan juga, ya?

Begitulah perbandingan antara deposito dengan reksa dana pasar uang. Buat Sobat yang gak mau ribet dan suka kepastian, deposito adalah solusinya. Namun, kalau ingin return yang lebih tinggi dan bisa mengambil dananya kapan saja, kamu wajib pilih reksa dana pasar uang.

Jangan lupa juga untuk selalu cek laman MySkill karena ada banyak bootcamp menarik yang dapat meningkatkan skill-mu. Sebab, skill yang bagus bisa membantumu mendapatkan pekerjaan yang bagus pula. Nah, nantinya, penghasilanmu bisa Sobat investasikan, deh, di reksa dana ataupun deposito.

Baca Juga: 6 Startup Finansial Sukses: Kenali Produk dan Manfaatnya

Editor: Fria Sumitro