Gig Economy, Lingkungan Kerja di Era Modern yang Berbasis Kontrak

Di era modern ini, banyak aspek yang telah berubah, tidak terkecuali budaya kerja. Pernah mendengar gig economy? Istilah tersebut mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia, tetapi dampaknya sering kita rasakan, lo! Salah satu efeknya adalah kebebasan.

Apa maksud dari kebebasan sebagai karakteristik gig economy? Apakah itu hal baik atau buruk? Nah, untuk menemukan jawabannya, langsung saja kita simak informasinya berikut ini!

1. Definisi Gig Economy

Definisi Gig Economy. Pexels
Dalam gig economy, hubungan pekerja dengan perusahaan sangat bergantung pada kontrak

Merangkum dari sebuah publikasi karya Gobinda Roy dan Avinash K. Shrivastava (2020), gig economy adalah sebuah lingkungan kerja di mana hubungan antara perusahaan dengan pekerja berbasis pada kontrak kerja dan bukan hubungan permanen—seperti karyawan tetap.

Kata “gig” di sini memiliki referensi terhadap penampilan group band musik yang mendapat bayaran untuk setiap penampilannya. Nah, seperti itu pulalah para pekerja dalam budaya kerja gig economy mendapatkan bayaran.

Pada skema karyawan tetap, bayaran berupa gaji yang nilainya jelas dari waktu ke waktu. Dari gaji tersebut, beban kerja karyawan akan disesuaikan. Namun, pada gig economy, pekerja menerima upah berdasarkan satuan kerja yang berhasil mereka kerjakan—bisa berupa kontrak atau hasil kerja.

2. Sejarah Gig Economy

krisis ekonomi tahun 2008. Pexels
Awalnya, gig economy tercipta untuk membantu orang-orang menghadapi krisis keuangan

Budaya kerja yang satu ini baru muncul di abad ke-21, tepatnya saat krisis ekonomi tahun 2008. Saat itu, krisis yang terjadi berdampak besar kepada perusahaan. Mereka sulit merekrut karyawan tetap baru, tetapi, pada waktu yang bersamaan, karyawan lama sudah banyak yang terkena PHK

Untuk bertahan hidup, banyak masyarakat yang mencari penghasilan dengan mencari kontrak kerja. Hal ini lebih mudah bagi pihak pencari dan pemberi kerja karena sistem kontrak memberikan sedikit kelonggaran pada perusahaan dalam menentukan nasib pekerja ke depannya—termasuk dalam hal menentukan benefit karyawan. 

Lambat laun, kehadiran teknologi gadget dan internet makin mempercepat pertumbuhan gig economy. Selain itu, perkembangan budaya ini turut didukung oleh penerapannya di beberapa startup, khususnya startup ride hailing dan jasa antar logistik.

Sama halnya dengan Indonesia, perkembangan gig economy juga banyak berawal dari perusahaan-perusahaan rintisan.

Baca Juga: Pentingnya Etos Kerja untuk Perkembangan Karier

3. Karakteristik dan Tren Gig Economy

Karakteristik dan Tren Gig Economy. Pexels
Akses ke pasar global memampukan karyawan bekerja untuk perusahaan di luar negeri

Ketika berada dalam sebuah gig economy, Sobat MySkill akan melihat beberapa karakteristik yang umum terjadi. Karakteristik tersebut antara lain sebagai berikut:

a. Lingkungan kerja yang dominan diisi pegawai kontrak atau freelancer

Lingkungan dan hubungan kerja yang berbasis kontrak berarti makin mengurangi keterlibatan karyawan tetap dan memperbanyak pekerja lepas. Hal ini tercermin dengan para pegawai kontrak dan freelancer yang mengisi posisi-posisi pada suatu bagian pekerjaan. 

Tidak hanya itu, pada beberapa perusahaan startup, mereka juga menggunakan istilah “mitra” untuk menyebut pekerja dengan sistem upah, tetapi berbasis satuan kerja yang berkelanjutan, seperti antarbarang, antarpenumpang, hingga penyediaan produk pertanian.

b. Fleksibilitas dan kebebasan kerja

Karena berbasis upah, perusahaan tidak perlu terlalu mengekang dalam mengatur sumber daya manusianya. Para pekerja dapat dengan bebas menentukan waktu dan berapa lama mereka ingin bekerja. Meskipun begitu, hal ini tentu akan berdampak pada jumlah dan waktu pembayaran upah mereka.

c. Kehadiran software sebagai tulang punggung budaya kerja

Salah satu faktor yang ikut menguatkan perkembangan gig economy di masa lampau adalah kehadiran aplikasi yang menjembatani tenaga kerja dengan pemberi kerja—dan kondisi ini akan tetap berlangsung di masa depan.

Dari penjelasan sebelumnya, pada sistem kerja ini, para karyawan bisa bekerja dari mana saja. Walaupun begitu, bukan berarti mereka tidak bisa saling terhubung. Dengan bantuan gadget, para pekerja bisa berkomunikasi satu sama lain.

Dari segi calon pekerja pula, keberadaan software sangat membantu mereka mendapatkan “gig” alias ‘pekerjaan kontrak’ lebih banyak lagi. Jadi, software memang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

d. Akses ke pasar yang lebih luas

Masih berkaitan dengan keberadaan software, laman-laman website tempat terhubungnya freelance dengan calon client —seperti Fiverr.com—atau antara mitra dengan calon konsumen—seperti Gojek—menyembabkan sumber pekerjaan bisa berasal dari mana saja.

Yang lebih menakjubkannya lagi, website Fiverr.com bahkan mampu memungkinkan para tenaga kerjanya untuk bertemu dengan klien dari luar negeri.

4. Dampak Baik Gig Economy terhadap Lingkungan Kerja

Dampak Baik Gig Economy. Pexels
Gig economy memberi perempuan kesempatan lebih di dalam dunia kerja

Selama lebih dari 13 tahun berkembang, gig economy sudah menyumbang banyak perubahaan terhadap dunia. Pada masa-masa resesi atau krisis ekonomi, budaya ini berhasil menghemat pengeluaran perusahaan karena fleksibilitas pembayaran upahnya yang bergantung pada satuan kerja.

Itu artinya, perusahaan dapat menyesuaikan gaji karyawan berdasarkan seberapa besar mereka dapat menguntungkan perusahaan tanpa perlu mengelola sumber daya secara ketat.

Akibat sistem upah yang seperti ini, tentu para pekerja dapat mengambil pekerjaan atau kontrak sebanyak yang mereka mampu. Ini akan memberikan mereka sebuah pendapatan yang lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan hidup.

Dari sisi kompetisi, para pelaku gig economy yang bersaing pada pasar global tentu harus meningkatkan skill supaya mereka tetap relevan dari waktu ke waktu. Ini akan meningkatkan nilai tawar mereka di masa depan dan memberikan perusahaan kesempatan untuk mendapatkan tenaga kerja yang kompeten.

Selain itu, tindakan bekerja lepas atau freelancing ini mempromosikan budaya “bekerja dari rumah”. Bagi beberapa orang, kondisi ini bukan sekadar menghemat ongkos, tetapi juga berkaitan dengan perasaan nyaman ketika bekerja.

Banyak yang senang bekerja dekat dengan keluarga. Hal ini lantas berujung pada membaiknya kesehatan mental mereka. Nah, kesehatan mental yang membaik berarti produktivitas semakin tinggi, bukan?

Untuk kaum perempuan sendiri, gig economy juga mempromosikan kesetaraan di lingkungan kerja, lo! Hal tersebut memungkinkan perempuan untuk dapat ikut bersaing secara sehat. Di samping itu, budaya bekerja dari rumah juga membuat para ibu bisa dekat dengan anak-anaknya sambil meniti karier.

5. Dampak Buruk Gig Economy terhadap Lingkungan Kerja

eksploitasi kerja. Pexels
Sayangnya, model gig economy dapat memicu eksploitasi pekerja

Dengan daftar panjang dampak baiknya, apa itu berarti model gig economy mengungguli budaya kerja tradisional? Sayangnya, tidak. Banyak terjadi demonstrasi di sejumlah negara menyangkut tuntutan para pekerja kontrak untuk mendapat kepastian kesejahteraan dan upah yang lebih baik lagi.

Tuntutan serupa juga terjadi di Indonesia antara para mitra dengan perusahaan. Alasannya selalu sama: mereka dihargai lebih rendah dari kemampuannya, bahkan setelah memiliki banyak keahlian dan sertifikasi.

Hal ini terjadi lantaran jumlah pemberi kerja yang jauh lebih sedikit ketimbang tenaga kerja. Kondisi ini akan selalu terjadi dalam budaya ini. Sebab, para pencari kerja terhubung ke dalam 1 pasar yang sama. Di pasar tersebut, kompetisi terjadi secara bebas. Mereka yang berkemampuan terbaik, tercepat, serta biaya termurahlah yang akan menang.

Kompetisi yang terlalu ketat ini sangat merugikan karyawan karena mereka harus bekerja sekuat tenaga, tapi hanya menikmati hasil yang sedikit. Akibatnya, tak heran jika gig economy mendapat stereotip pro-employer (pro-pemberi kerja).

Tak berhenti di situ, jaminan kesejahteraan dan hukum juga lemah di banyak negara. Perlu Sobat ketahui, alasan utama perusahaan senang menerapkan gig economy adalah untuk menekan biaya. Nah, biasanya, pengeluaran yang besar ada pada tunjangan karyawan, seperti tunjangan hari raya, biaya untuk mengakomodasi cuti, dan lain-lain.

Pada gig economy, hal seperti itu sangat mudah untuk dihilangkan. Bahkan, perusahaan bisa mencabut kemitraan kapan pun dengan beragam alasan tertentu.

6. Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghadapinya?

pasar bebas. Pexels
Butuh usaha lebih untuk bisa bertahan di tengah kompetisi gig economy

Anggaplah gig economy sebagai suatu bentuk implementasi dari pasar bebas. Di dalam pasar bebas, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat dipekerjakan. Namun, pemberi kerja juga berhak secara penuh menentukan siapa yang ingin mereka pekerjakan.

Dengan kondisi seperti itu, Sobat perlu mempersiapkan sejumlah hal, antara lain

a. Networking dan marketing

Networking dan marketing memudahkanmu untuk mendapatkan pekerjaan. Sebab, relasi sudah percaya denganmu. Maka dari itu, selama masa freelancing, Sobat dapat memaksimalkan komunikasi dengan menggali lebih dalam apa yang klien inginkan serta mencegah terjadinya kesalahpahaman.

Setelah selesai mendapatkan klien, tetap jaga hubungan baik dengan mereka karena bisa saja klien akan memberikan rating yang bagus tentangmu, entah itu melalui aplikasi ataupun dari mulut ke mulut.

b. Meningkatkan personal branding, skill, dan sertifikasi

Beberapa freelancer menjadikan budaya gig economy sebagai jembatan kariernya menuju posisi kerja yang lebih permanen. Supaya mudah mendapatkan posisi tersebut, skill menjadi pertimbangan paling penting bagi perusahaan.

Maka dari itu, Sobat gak boleh berhenti belajar. Kembangkan terus kemampuan dan sertifikasi yang kamu miliki. Tidak hanya itu, Sobat juga perlu membangun personal branding yang baik supaya membuatmu lebih menonjol dan unik daripada kandidat yang lain.

c. Biaya yang kompetitif

Sebagai pekerja yang menawarkan jasa, Sobat sudah pasti berkompetisi harga dengan freelancer lain. Untuk itu, perlu personal branding dan marketing yang mumpuni.

Hal ini supaya Sobat tidak menerima upah yang murah dan juga agar klien semakin percaya kalau jasamu memang sebanding dengan harga yang kamu patok.

Sekalipun kontroversial, gig economy juga memiliki sejumlah dampak baik. Nah, bagi Sobat yang ingin atau sedang merasa berada di tengah situasi kerja yang seperti itu, ingat untuk selalu mengembangkan kemampuan dirimu. Kebetulan, MySkill menyediakan program upgrade skill, lo!

Terdapat banyak program bootcamp dengan topik yang beragam, mulai dari web development, copywriting, hingga digital marketing. Pokoknya, cocok untuk kamu survive di tengah revolusi industri 4.0, deh! Tunggu apa lagi? Cek myskill.id sekarang sebelum kehabisan tempat!

Baca Juga: Mengenal Financial Freedom, Apakah Berpengaruh dalam Dunia Kerja?

Editor: Fria Sumitro